Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Menkes Apresiasi Program Alih Iptek Bedah Jantung Anak RS M. Djamil Bersama KSRelief



Padang – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Program Alih Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) Bedah Jantung Anak yang diselenggarakan RSUP Dr. M. Djamil Padang bekerja sama dengan King Salman Humanitarian Aid and Relief Center (KSRelief) dan Muslim World League (MWL).

Apresiasi tersebut disampaikan saat Menteri Kesehatan melakukan kunjungan kerja ke RS M. Djamil pada Rabu (29/7/2026) malam. Kunjungan tersebut bertujuan meninjau langsung pelaksanaan program transfer ilmu dan teknologi operasi bedah jantung anak yang melibatkan tim dokter Indonesia dan tenaga medis dari Arab Saudi.
Kedatangan Menkes disambut Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bersama jajaran direksi dan manajemen rumah sakit.

Kegiatan diawali dengan pertemuan bersama tim medis KSRelief, Muslim World League, dan dokter RS M. Djamil sebagai bentuk penguatan komitmen dalam meningkatkan kapasitas layanan bedah jantung anak di Indonesia.

Dalam sambutannya, Budi Gunadi Sadikin menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Arab Saudi melalui KSRelief dan Muslim World League yang tidak hanya membantu pelaksanaan operasi bedah jantung anak, tetapi juga mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada tenaga kesehatan Indonesia.

"Program ini bukan hanya meningkatkan keterampilan dokter kita, tetapi juga menyelamatkan nyawa anak-anak Indonesia yang menderita penyakit jantung," ujar Menkes.

Ia menjelaskan, Kementerian Kesehatan terus mempercepat pemerataan layanan bedah jantung terbuka melalui program pengampuan nasional. Jika pada 2019 hanya sembilan provinsi yang mampu memberikan layanan tersebut, kini jumlahnya telah meningkat menjadi 30 provinsi.

Menurut Menkes, penguatan rumah sakit rujukan nasional juga harus diiringi dengan peningkatan kemampuan menangani kasus-kasus bedah jantung yang semakin kompleks. Bahkan, ia menantang tim bedah jantung anak RS M. Djamil agar ke depan mampu melakukan prosedur Norwood Stage 1, salah satu operasi paling kompleks untuk menangani bayi dengan Hypoplastic Left Heart Syndrome (HLHS).

"Apabila tim RS M. Djamil mampu melakukan tindakan ini secara mandiri, maka kemampuan layanan bedah jantung anak di rumah sakit ini sudah berada pada level yang sangat tinggi," katanya.

Usai pertemuan, Menkes meninjau langsung proses operasi bedah jantung anak di Instalasi Bedah Sentral, kemudian mengunjungi ruang Intensive Care Unit (ICU) untuk berdialog dengan dokter, perawat, dan tim medis KSRelief mengenai pelayanan pascaoperasi serta proses alih ilmu yang sedang berlangsung.

Kunjungan dilanjutkan ke ruang rawat inap Gedung Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu (IPJT), tempat Menkes menyapa sejumlah pasien anak beserta keluarga yang tengah menjalani masa pemulihan. Ia memberikan semangat kepada para pasien agar segera pulih dan dapat kembali menjalani aktivitas seperti anak-anak pada umumnya.

Direktur Utama RS M. Djamil, Dovy Djanas, mengatakan kunjungan Menteri Kesehatan menjadi motivasi bagi seluruh tenaga kesehatan untuk terus meningkatkan mutu pelayanan sekaligus memperkuat pengembangan layanan bedah jantung anak sebagai salah satu layanan unggulan rumah sakit.

"Kunjungan Bapak Menteri Kesehatan merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan layanan bedah jantung anak di RS M. Djamil. Program alih ilmu pengetahuan dan teknologi ini tidak hanya memberikan manfaat bagi pasien, tetapi juga meningkatkan kompetensi tim medis kami sehingga semakin banyak anak Indonesia dapat memperoleh pelayanan bedah jantung berkualitas tanpa harus dirujuk ke luar negeri," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Pelaksanaan Alih Iptekdok KSRelief RS M. Djamil, dr. Ardiansyah, Sp.BTKV, MARS, FICS, FISQua, FIATCVS, mengungkapkan sejak program dimulai pada 25 Juli hingga 29 Juli 2026 telah berhasil dilakukan 23 operasi bedah jantung anak dengan berbagai tingkat kompleksitas.

Menurutnya, sejumlah tindakan yang sebelumnya belum pernah dilakukan di RS M. Djamil berhasil dilaksanakan dalam program tersebut, di antaranya Arterial Switch Operation (ASO) dan Aortic Root Replacement (Bentall) pada pasien anak.

Di sisi lain, anggota tim KSRelief, dr. Aljohara Hamzah, mengaku terkesan dengan budaya kerja dan pelayanan yang diberikan RS M. Djamil selama pelaksanaan misi kemanusiaan tersebut.

"Kami melihat seluruh tim bekerja dengan penuh kepedulian terhadap pasien. Tidak hanya kompetensi medis yang sangat baik, tetapi juga hospitality yang luar biasa dari seluruh tenaga kesehatan di RS M. Djamil," ungkapnya.

Program kolaborasi ini melibatkan 15 tenaga medis multidisiplin dari KSRelief, terdiri atas dokter bedah jantung, ahli anestesi, dokter jantung, dokter ICU, perfusionist, perawat, hingga terapis pernapasan. Kehadiran tim internasional tersebut diharapkan mampu memperkuat proses transfer ilmu dan meningkatkan kemandirian layanan bedah jantung anak di Indonesia pada masa mendatang.