RSUP Dr. M. Djamil terus memperkuat pengembangan riset kesehatan berbasis teknologi molekuler melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat. Pada Rabu (15/4), Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua bersama Ketua Komite PPI PRA Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc melakukan pertemuan dengan Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K) di Kementerian Kesehatan RI.

Pertemuan tersebut membahas pengembangan riset translasional berbasis molekuler di RSUP Dr. M. Djamil, dengan fokus utama pada penguatan penelitian Interferon Gamma Release Assay (IGRA). Penguatan metode diagnostik ini menjadi bagian dari upaya mendukung program pemerintah dalam percepatan eliminasi TBC di Indonesia melalui deteksi dini yang lebih akurat, cepat, dan berbasis teknologi mutakhir.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua menyampaikan pertemuan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi antara rumah sakit dan pemerintah pusat dalam mengembangkan riset berbasis teknologi molekuler. “Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk menyelaraskan pengembangan riset dengan program nasional pemberantasan TBC, sehingga inovasi yang dihasilkan benar-benar mendukung target eliminasi TBC,” ujarnya.

Ia menegaskan pengembangan riset IGRA merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan menuju sistem yang lebih presisi dan berbasis bukti ilmiah. “Kami mendukung penuh agenda pemerintah dalam eliminasi TBC. IGRA menjadi salah satu instrumen penting untuk mempercepat deteksi kasus, terutama infeksi laten yang sering tidak terdiagnosis,” kata Dovy.

Menurutnya, RSUP Dr. M. Djamil memiliki komitmen kuat untuk terus mendorong inovasi di bidang diagnostik, khususnya dalam deteksi penyakit infeksi seperti TBC. “Pendekatan berbasis molekuler akan memberikan lompatan besar dalam meningkatkan akurasi diagnosis serta efektivitas penanganan pasien,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan pengembangan riset IGRA tidak hanya berfokus pada aspek pelayanan, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas penelitian tenaga medis dan peneliti di lingkungan rumah sakit. “Kami ingin memastikan rumah sakit berperan aktif sebagai pusat riset yang mendukung kebijakan nasional, khususnya dalam pengendalian penyakit menular,” ujarnya.

Dovy menilai dukungan dari Kementerian Kesehatan menjadi faktor penting dalam percepatan implementasi riset translasional ini. “Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat adopsi hasil riset ke dalam layanan kesehatan, sekaligus memperkuat strategi nasional eliminasi TBC,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan hasil riset secara langsung dalam praktik klinis. “Riset translasional harus mampu menjembatani laboratorium dengan layanan pasien, sehingga setiap temuan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Tes IGRA sendiri merupakan metode pemeriksaan untuk mendeteksi infeksi TBC dengan mengukur respons sistem imun terhadap bakteri Mycobacterium tuberculosis. Berbeda dengan tes tuberkulin konvensional, IGRA memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya tingkat spesifisitas yang lebih tinggi serta tidak terpengaruh oleh vaksinasi BCG, sehingga hasilnya lebih akurat dalam mendeteksi infeksi laten TBC.

Selain itu, tes IGRA juga hanya memerlukan satu kali kunjungan pasien karena hasil dapat diperoleh dari sampel darah tanpa perlu pemeriksaan lanjutan seperti pada metode lama. Hal ini menjadikan IGRA sebagai salah satu inovasi penting dalam diagnosis dini TBC, terutama dalam mendukung program eliminasi TBC di Indonesia.

Melalui pertemuan ini, RSUP Dr. M. Djamil berharap dapat menjadi salah satu pusat unggulan dalam pengembangan riset molekuler di bidang penyakit infeksi, sekaligus berkontribusi dalam memperkuat pencapaian target program nasional pemberantasan dan eliminasi TBC di Indonesia.(*)
 
Top