Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

RSUP Dr. M. Djamil Dorong Kesadaran Deteksi Dini pada World Brain Tumor Day 2026




Sumbar - RSUP Dr. M. Djamil Padang terus berkomitmen meningkatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan promotif dan preventif. Pada Senin (8/6), rumah sakit di bawah naungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tersebut, melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bekerja sama dengan Departemen Neurologi, memperingati World Brain Tumor Day 2026 di Poliklinik Neurologi RSUP Dr. M. Djamil.

Peringatan Hari Tumor Otak Sedunia ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mengenali gejala tumor otak sejak dini serta mendorong pemerataan akses terhadap diagnosis dan penanganan yang tepat. Kegiatan edukasi tersebut diikuti oleh pasien, keluarga pasien, serta pengunjung rumah sakit yang antusias mendapatkan informasi langsung dari tenaga medis spesialis.

Dalam kesempatan tersebut, dokter spesialis neurologi RSUP Dr. M. Djamil, dr. Dhiang Mulia Syofiadi, Sp.N, hadir sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Memahami Tumor Otak”. Melalui pemaparannya, ia menjelaskan berbagai aspek penting terkait tumor otak, mulai dari pengertian, faktor risiko, gejala yang perlu diwaspadai, hingga pilihan terapi yang tersedia saat ini.

Menurut dr. Dhiang, tumor otak merupakan pertumbuhan sel abnormal di dalam otak yang dapat mengganggu sistem saraf dan berbagai fungsi tubuh. Kondisi ini dapat terjadi pada semua kelompok usia, meskipun secara statistik lebih sering ditemukan pada usia dewasa hingga lanjut usia.

“Tumor otak adalah pertumbuhan sel yang tidak normal di dalam otak. Keberadaannya dapat menekan jaringan otak di sekitarnya sehingga mengganggu fungsi saraf, kemampuan bergerak, berbicara, melihat, hingga fungsi tubuh lainnya,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tidak semua tumor otak bersifat kanker. Tumor otak dapat bersifat jinak maupun ganas. Tumor jinak umumnya tumbuh lebih lambat dan tidak menyebar ke bagian tubuh lain, sedangkan tumor ganas memiliki pertumbuhan yang lebih agresif serta berpotensi menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih luas.

Berdasarkan asalnya, tumor otak terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu tumor primer yang berasal dari jaringan otak itu sendiri dan tumor metastasis yang berasal dari penyebaran kanker dari organ lain ke otak.

“Tidak semua tumor otak adalah kanker. Ada yang bersifat jinak dan ada yang ganas. Namun, keduanya tetap memerlukan perhatian medis karena sama-sama dapat menimbulkan gangguan akibat tekanan pada jaringan otak,” ujarnya.

Terkait faktor risiko, dr. Dhiang menjelaskan bahwa hingga saat ini terdapat beberapa faktor yang diketahui dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami tumor otak.

“Di antaranya paparan radiasi, riwayat kanker, faktor genetik atau keturunan, serta sejumlah faktor lain yang hingga kini belum diketahui secara pasti,” katanya.

Pada sesi edukasi tersebut, dr. Dhiang juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan berbagai sinyal yang diberikan tubuh. Gejala tumor otak sering kali muncul secara bertahap dan kerap dianggap sebagai keluhan biasa sehingga menyebabkan keterlambatan diagnosis.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain sakit kepala yang terus-menerus atau semakin memberat, kejang yang muncul secara tiba-tiba, gangguan penglihatan maupun pendengaran, perubahan perilaku yang tidak biasa, gangguan koordinasi tubuh, mual dan muntah tanpa sebab yang jelas, hingga kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh.

“Yang perlu menjadi perhatian khusus adalah munculnya kejang secara tiba-tiba, terutama pada seseorang yang sebelumnya tidak pernah memiliki riwayat kejang. Kondisi seperti ini harus segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan untuk mencari penyebabnya,” tegasnya.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan sesuai kondisi pasien. Pemeriksaan pencitraan seperti MRI atau CT Scan digunakan untuk memetakan kondisi otak dan mengetahui lokasi serta ukuran tumor. Selain itu, pemeriksaan darah maupun PET Scan dapat dilakukan untuk memperoleh informasi sistemik yang lebih lengkap. Sementara itu, biopsi jaringan tetap menjadi metode utama untuk memastikan jenis tumor secara pasti.

“Pemeriksaan MRI atau CT Scan sangat membantu dalam melihat gambaran struktur otak. Namun, untuk menentukan jenis tumor secara definitif, diperlukan pemeriksaan jaringan melalui biopsi,” terang dr. Dhiang.

Perkembangan ilmu kedokteran, lanjutnya, telah menghadirkan berbagai pilihan terapi bagi pasien tumor otak.

“Penanganan dapat berupa tindakan bedah atau operasi, kemoterapi, radioterapi, maupun terapi target yang disesuaikan dengan jenis dan kondisi tumor yang dialami pasien,” ujarnya.

Di akhir sesi, dr. Dhiang mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi tubuh dan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila menemukan gejala yang tidak biasa.

“Jangan pernah mengabaikan sinyal-sinyal kecil dari tubuh Anda. Mengenali gejala sejak dini dan melakukan pemeriksaan sesegera mungkin merupakan kunci keselamatan. Semakin cepat tumor ditemukan, semakin tinggi peluang keberhasilan terapi yang dapat dicapai,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, RSUP Dr. M. Djamil berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan otak semakin meningkat sehingga deteksi dini dan penanganan tumor otak dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan optimal.