Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

RS M Djamil Edukasi Kesehatan Paru, Warga Diminta Tak Abaikan Batuk Berkepanjangan



PADANG – RS M. Djamil Padang menggelar edukasi kesehatan untuk pasien dan pengunjung di Poliklinik Paru Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan, Jumat (25/9/2026). Kegiatan yang mengangkat tema “Kenali Gangguan Paru, Lindungi Kesehatan Pernapasan” tersebut menyoroti pentingnya mengenali gejala penyakit paru sejak dini, terutama batuk yang tak kunjung sembuh.

Edukasi yang digelar Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/RS M. Djamil itu menghadirkan Dokter Spesialis Paru RS M. Djamil, dr. Dewi Wahyu Fitrina, Sp.P(K), FISR, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, dr. Dewi mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh batuk berkepanjangan karena dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pada paru yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

“Penyakit paru merupakan gangguan pada organ paru yang membuat kita sulit bernapas dan menurunkan fungsi paru,” ujar dr. Dewi.

Ia menjelaskan, penyakit paru secara umum dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yakni penyakit paru infeksi dan noninfeksi.

Penyakit paru infeksi disebabkan oleh kuman, baik virus, bakteri maupun jamur. Sebagian di antaranya dapat menular, seperti tuberkulosis (TBC), pneumonia dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Sementara penyakit paru noninfeksi tidak disebabkan oleh kuman dan tidak menular. Contohnya asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) serta kanker paru.

TBC Bisa Disembuhkan

Dalam kegiatan tersebut, TBC menjadi salah satu penyakit yang mendapat perhatian karena dapat menular melalui udara.

Namun, dr. Dewi menegaskan bahwa TBC bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Dengan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat serta kepatuhan menjalani terapi, pasien TBC dapat memperoleh penanganan secara optimal.

“TBC menular lewat udara, tetapi bisa disembuhkan,” katanya.

Ia mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri apabila mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh.

“Kalau batuk tidak sembuh-sembuh, periksa ke puskesmas,” ujarnya.

Menurutnya, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan penyebab batuk sekaligus menentukan apakah pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Pengobatan TBC Harus Tuntas

Dr. Dewi juga menekankan pentingnya kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan TBC.

Pengobatan TBC minimal berlangsung selama enam bulan dan tidak boleh dihentikan atau terputus tanpa arahan tenaga kesehatan. Obat anti-TBC juga tersedia secara gratis di puskesmas.

“Pengobatan TBC minimal enam bulan dan tidak boleh terputus. Obat anti-TBC tersedia gratis di puskesmas. Minum obat teratur sesuai petunjuk petugas kesehatan,” jelasnya.

Ia mengingatkan pasien tidak menghentikan pengobatan hanya karena sudah merasa sehat.

“Jangan berhenti walau sudah merasa sehat. Kuman bisa menjadi kebal obat,” tegas dr. Dewi.

Lindungi Paru dari Rokok dan Polusi

Selain mengenali gejala dan melakukan pemeriksaan sejak dini, masyarakat juga diajak menerapkan pola hidup yang dapat membantu menjaga kesehatan paru.

Masyarakat diimbau menghindari rokok dan paparan polusi, mengenali gejala gangguan paru sejak dini serta segera melakukan pemeriksaan dan pengobatan secara tepat.

“Jaga paru dengan menghindari rokok dan polusi. Kenali gejala sejak dini. Periksa dan berobat secara tepat,” pesannya.

Melalui edukasi tersebut, RS M. Djamil mendorong masyarakat untuk tidak hanya berfokus pada pengobatan ketika sudah sakit, tetapi membangun kesadaran menjaga kesehatan paru sejak dini.

“Penyakit paru dapat dicegah dan dikendalikan. Paru sehat, napas lebih mudah, hidup lebih berkualitas,” pungkas dr. Dewi.