Tak Sekadar Angka, RS M. Djamil Jadikan Data sebagai Dasar Perbaikan Pelayanan
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop Manajemen Data yang digelar di Auditorium Lantai 4 Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil, Selasa (11/8/2026).
Kegiatan yang diikuti jajaran dan unsur terkait di lingkungan RS M. Djamil tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman serta kapasitas sumber daya manusia dalam mengelola data, mulai dari proses pencatatan, pengumpulan, pengolahan, verifikasi hingga pemanfaatannya sebagai dasar evaluasi dan pengambilan keputusan.
Ketua Komite Mutu RS M. Djamil, dr. Sucitra Melani, MKM, mengatakan data memiliki peran strategis dalam pelaksanaan program mutu rumah sakit.
“Data merupakan bagian yang sangat penting dalam pelaksanaan mutu di rumah sakit. Dengan data yang baik, kita dapat mengetahui kondisi pelayanan secara lebih objektif, melihat capaian yang sudah dilakukan, sekaligus mengidentifikasi bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki,” ujar Sucitra.
Menurutnya, manajemen data tidak berhenti pada bagaimana data dikumpulkan. Lebih dari itu, setiap data harus dipastikan memiliki tingkat ketepatan, kelengkapan, konsistensi dan validitas yang baik sebelum digunakan untuk analisis.
“Yang kita harapkan bukan hanya bagaimana data itu terkumpul, tetapi bagaimana data tersebut benar-benar dapat dimanfaatkan. Karena pada akhirnya data harus mampu memberikan informasi yang bisa menjadi dasar untuk melakukan perbaikan pelayanan,” katanya.
Sucitra menjelaskan, kompleksitas pelayanan kesehatan saat ini membuat kebutuhan terhadap data yang berkualitas semakin besar. Data dibutuhkan untuk memantau berbagai indikator pelayanan, mengevaluasi kinerja serta menentukan langkah perbaikan secara berkelanjutan.
Karena itu, menurutnya, kualitas data bukan hanya menjadi tanggung jawab satu unit atau komite. Seluruh pihak yang terlibat dalam menghasilkan maupun menggunakan data memiliki peran penting dalam memastikan informasi yang tersedia benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Manajemen data ini merupakan tanggung jawab bersama. Tidak hanya menjadi tugas satu unit atau satu komite saja. Semua pihak yang menghasilkan dan menggunakan data memiliki peran untuk memastikan data yang kita miliki benar-benar berkualitas,” tegasnya.
Workshop tersebut sekaligus menjadi momentum untuk menyamakan persepsi seluruh unsur terkait mengenai pentingnya manajemen data di lingkungan RS M. Djamil. Kesamaan pemahaman diharapkan membuat proses pengelolaan data berjalan lebih sistematis, terukur dan terarah.
Sucitra menambahkan, budaya mutu di rumah sakit tidak sebatas pemenuhan standar. Budaya tersebut juga harus tercermin dalam setiap proses pelayanan yang dilakukan berdasarkan bukti dan pengukuran yang jelas.
Dalam konteks itu, data menjadi instrumen penting untuk mengidentifikasi persoalan, menemukan akar masalah, menentukan prioritas perbaikan hingga mengukur efektivitas intervensi yang telah dilakukan.
“Kalau kita ingin melakukan perbaikan, kita harus mengetahui terlebih dahulu masalahnya berdasarkan data. Setelah dilakukan perbaikan, kita juga harus melihat kembali datanya untuk mengetahui apakah intervensi yang dilakukan memberikan dampak atau tidak,” jelasnya.
Komite Mutu RS M. Djamil, lanjut Sucitra, akan terus mendorong penguatan sistem manajemen data sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu secara berkelanjutan.
“Kita ingin membangun sistem yang tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga menghasilkan informasi yang bermakna. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan secara terus-menerus,” ujarnya.
Ia berharap hasil workshop tidak berhenti pada pemahaman peserta, tetapi dilanjutkan dengan perubahan nyata dalam pengelolaan data di masing-masing unit kerja.
“Harapan kita setelah workshop ini ada perubahan dalam cara kita mengelola data. Mulai dari bagaimana data dikumpulkan, diverifikasi, dianalisis sampai bagaimana data tersebut digunakan untuk mengambil keputusan dan melakukan perbaikan,” tukasnya.
Penguatan manajemen data tersebut menjadi bagian dari langkah RS M. Djamil dalam membangun pelayanan kesehatan yang semakin berbasis bukti, terukur, berorientasi pada mutu dan keselamatan pasien.
