Sering Tak Bergejala, RS M. Djamil Ingatkan Masyarakat Waspadai Penyakit Ginjal Kronik
Pesan tersebut disampaikan RSUP Dr. M. Djamil Padang melalui edukasi kesehatan bagi pasien dan keluarga pasien yang digelar Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Divisi Ginjal Hipertensi Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Senin (10/8/2026).
Edukasi yang berlangsung di Poliklinik Khusus Gedung Administrasi dan Instalasi Rawat Jalan RS M. Djamil tersebut mengangkat tema “Memahami Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik”, dengan menghadirkan dr. Garri Prima Decroli, Sp.PD sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, dr. Garri menjelaskan penyakit ginjal kronik merupakan gangguan struktur maupun fungsi ginjal yang berlangsung selama tiga bulan atau lebih. Salah satu parameter yang digunakan untuk menilai fungsi ginjal adalah laju filtrasi glomerulus atau GFR (glomerular filtration rate).
“Penyakit ginjal kronik adalah gangguan struktur dan fungsi ginjal selama lebih atau sama dengan tiga bulan. Salah satu kriterianya adalah GFR kurang dari 60 mililiter per menit per 1,73 meter persegi selama lebih dari tiga bulan, dengan atau tanpa adanya kerusakan ginjal,” jelas dr. Garri.
Menurutnya, penyakit ginjal kronik menjadi persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian karena dapat berkembang tanpa keluhan yang khas pada tahap awal.
Pada stadium satu hingga tiga, pasien umumnya belum merasakan gejala yang jelas. Kondisi tersebut menyebabkan seseorang dapat mengalami penurunan fungsi ginjal tanpa menyadarinya.
“Pada stadium awal, mulai dari stadium satu sampai stadium tiga, biasanya tidak ada gejala yang dirasakan secara jelas. Karena itu, seseorang yang memiliki faktor risiko perlu melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala,” terangnya.
Memasuki stadium empat, berbagai keluhan mulai dapat muncul, seperti pembengkakan atau sembab, pucat, mual dan peningkatan tekanan darah. Sementara pada stadium lima, kondisi dapat semakin berat dengan munculnya sembab, sesak napas, mual, muntah hingga nyeri tulang.
Pada kondisi penurunan fungsi ginjal yang berat, pasien dapat membutuhkan terapi pengganti fungsi ginjal, termasuk dialisis atau cuci darah.
Diabetes dan Hipertensi Jadi Faktor Risiko Penting
Dr. Garri menjelaskan, terdapat sejumlah kondisi yang dapat menjadi faktor risiko maupun berkaitan dengan terjadinya penyakit ginjal kronik. Dua di antaranya adalah diabetes melitus dan hipertensi.
Selain itu, glomerulonefritis, batu ginjal, kista ginjal dan asam urat juga perlu diperhatikan. Penggunaan obat-obatan tertentu serta produk herbal tanpa pengawasan tenaga kesehatan juga dapat berisiko terhadap kesehatan ginjal.
“Diabetes melitus dan hipertensi merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan. Selain itu, ada glomerulonefritis, batu ginjal, kista ginjal, asam urat, penggunaan obat-obatan maupun herbal tertentu. Karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam menjaga kesehatan dan menggunakan obat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penyakit ginjal kronik tidak hanya berdampak pada organ ginjal. Penurunan fungsi ginjal dapat memengaruhi berbagai organ dan sistem tubuh lainnya, termasuk jantung, otak, paru-paru, saluran pencernaan dan tulang.
Penyakit ginjal kronik juga berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke. Karena itu, menjaga kesehatan ginjal merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Kenali Risiko dan Cegah Sejak Dini
Dalam hal penanganan, terapi diberikan sesuai kondisi dan tingkat keparahan penyakit. Pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal berat, terapi pengganti ginjal dapat dilakukan melalui hemodialisis maupun Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD). Transplantasi ginjal juga dapat menjadi pilihan bagi pasien yang memenuhi persyaratan medis.
Namun, dr. Garri menekankan bahwa pencegahan dan deteksi dini tetap menjadi langkah penting untuk memperlambat perjalanan penyakit.
Masyarakat dianjurkan menerapkan pola hidup sehat dengan tetap aktif bergerak, menjaga kecukupan cairan, tidak merokok, memantau tekanan darah serta mengendalikan kadar gula darah, khususnya bagi penderita diabetes.
Pola makan sehat dan menjaga berat badan juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan ginjal. Masyarakat juga diminta tidak sembarangan mengonsumsi obat, terutama dalam jangka panjang tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
“Menjaga ginjal dapat dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Tetap aktif, menjaga hidrasi, tidak merokok, memantau tekanan darah dan kadar gula darah, menjaga pola makan serta berat badan. Jangan sembarangan mengonsumsi obat, dan bagi mereka yang memiliki satu atau beberapa faktor risiko tinggi, sebaiknya melakukan pemeriksaan fungsi ginjal,” tukas dr. Garri.
Melalui kegiatan edukasi tersebut, RS M. Djamil berharap pasien dan keluarga semakin memahami pentingnya mengenali faktor risiko, menerapkan pola hidup sehat serta melakukan pemeriksaan secara berkala sebagai bagian dari upaya mencegah penyakit ginjal kronik sejak dini.
