Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

RS M. Djamil Perkuat Layanan Intervensi Paru, Gandeng Ahli UKM Malaysia



PADANG — RSUP Dr. M. Djamil Padang terus memperkuat pengembangan layanan intervensi paru melalui peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, penguatan sarana dan prasarana, serta kolaborasi internasional.

Upaya tersebut diwujudkan melalui visitasi Prof. Dr. Mohamed Faisal Abdul Hamid dari Hospital Canselor Tuanku Muhriz, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), ke RS M. Djamil Padang, Selasa (11/8/2026).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari Asian Pacific Society of Respirology (APSR) Clinical Training Fellowship Program 2026 dan berlangsung selama tiga hari. Kehadiran Prof. Mohamed menjadi momentum bagi RS M. Djamil untuk mendapatkan pembelajaran serta masukan terkait pengembangan layanan intervensi paru.

Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, mengatakan pengembangan layanan intervensi paru membutuhkan kesiapan secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi kompetensi tenaga kesehatan.

“Pengembangan layanan tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, tetapi juga proses pembelajaran yang berkelanjutan, penguatan sarana dan prasarana, serta kolaborasi yang kuat antara pelayanan, pendidikan, dan pengembangan kompetensi,” kata Dovy.

Menurutnya, layanan intervensi paru membutuhkan dukungan berbagai aspek, mulai dari kompetensi dokter dan tenaga kesehatan, tata kelola pelayanan, fasilitas dan peralatan medis, hingga kemampuan tim dalam menjalankan pelayanan secara multidisiplin.

Karena itu, visitasi Prof. Mohamed dinilai menjadi kesempatan penting bagi RS M. Djamil untuk mengevaluasi kesiapan layanan sekaligus mempelajari pengalaman dan praktik yang telah berkembang di bidang intervensi paru.

“Kami memandang kegiatan ini bukan sekadar sebuah kunjungan atau visitasi, tetapi sebagai kesempatan untuk belajar, berdiskusi, melakukan evaluasi, dan mendapatkan masukan dari pengalaman serta praktik yang telah berkembang,” ujarnya.

Dovy menegaskan, pengembangan layanan intervensi paru membutuhkan kolaborasi lintas profesi. Dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya, manajemen serta unit pendukung harus bekerja secara terintegrasi agar layanan dapat berjalan optimal.

Selain aspek pelayanan, pengembangan kompetensi juga diharapkan berjalan beriringan dengan pendidikan dan penelitian. Dengan demikian, peningkatan layanan tidak hanya berdampak terhadap kemampuan klinis, tetapi juga mendukung pengembangan ilmu kedokteran dan kualitas pelayanan kepada pasien.

“Kami berharap kegiatan visitasi ini tidak berhenti pada rangkaian kegiatan selama tiga hari, tetapi dapat menjadi awal dari kolaborasi dan hubungan profesional yang lebih kuat dan berkelanjutan antara RS M. Djamil dengan Prof. Mohamed dan institusi terkait,” tutur Dovy.

Sementara itu, Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, dr. Rauza Sukma Rita, Ph.D, menilai visitasi tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat hubungan antara institusi pendidikan dan rumah sakit.

Menurut Rauza, rumah sakit pendidikan memiliki peran penting tidak hanya dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, tetapi juga sebagai tempat pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengembangan kompetensi tenaga kesehatan.

“Visitasi ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperkuat proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi. Kehadiran Prof. Mohamed memberikan ruang bagi kita untuk mendapatkan perspektif dan pengalaman yang lebih luas tentang layanan intervensi paru,” katanya.

Ia menambahkan, pengembangan layanan kesehatan modern membutuhkan sinergi antara pendidikan, pelayanan dan penelitian. Ketiganya perlu berjalan beriringan agar inovasi serta perkembangan ilmu kedokteran dapat diterapkan dalam pelayanan kepada masyarakat.

Dengan adanya visitasi dan pertukaran pengalaman tersebut, RS M. Djamil berharap pengembangan layanan intervensi paru dapat semakin kuat, baik dari sisi kompetensi sumber daya manusia maupun tata kelola, fasilitas dan kolaborasi akademik serta klinis.