Padang - RSUP Dr. M. Djamil terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan sekaligus edukasi kepada masyarakat. Pada hari ini (31/3), rumah sakit di bawah Kementerian Kesehatan tersebut melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan bersama Departemen Neurologi FK Unand/RSUP Dr. M. Djamil menggelar kegiatan peringatan World Purple Day for Epilepsy Awareness yang sebenarnya diperingati secara global setiap tanggal 26 Maret. Kegiatan ini dilaksanakan di Poliklinik Neurologi dengan melibatkan pasien, keluarga pasien, serta tenaga kesehatan.

Peringatan ini mengusung tema tentang pentingnya hidup berkualitas bagi penyandang epilepsi. Tema tersebut dipilih untuk menekankan bahwa epilepsi bukanlah penghalang bagi seseorang untuk menjalani kehidupan yang produktif dan bermakna, selama mendapatkan penanganan yang tepat dan dukungan yang memadai dari lingkungan sekitar.

Dalam kesempatan itu, dr. Lidya Susanti, SpN(K), M.Biomed, M.PedKed hadir memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga pasien yang datang ke Poliklinik Neurologi. “Epilepsi merupakan gangguan neurologis yang ditandai dengan kecenderungan terjadinya kejang berulang akibat aktivitas listrik yang tidak normal di otak,” kata dr. Lidya.

Ia menekankan masih banyak masyarakat yang memiliki pemahaman keliru tentang epilepsi, termasuk stigma yang membuat penderita seringkali dikucilkan. “Epilepsi bukan penyakit menular dan dalam banyak kasus dapat dikontrol dengan pengobatan yang teratur,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan pentingnya kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter, karena penghentian obat secara tiba-tiba dapat memicu kekambuhan kejang. Selain itu, ia mengingatkan keluarga pasien agar memahami kondisi tersebut dan mampu memberikan pertolongan pertama yang tepat saat terjadi kejang, seperti menjaga posisi pasien agar tetap aman dan tidak memasukkan benda apapun ke dalam mulut pasien.

“Epilepsi memiliki berbagai jenis dengan gejala yang berbeda-beda pada setiap pasien. Tidak semua epilepsi ditandai dengan kejang hebat yang terlihat jelas, namun ada juga bentuk kejang ringan seperti hilang kesadaran sesaat atau gerakan berulang yang sering tidak disadari. Oleh karena itu, pentingnya pemeriksaan medis yang tepat untuk memastikan diagnosis sehingga terapi yang diberikan dapat sesuai dengan kondisi masing-masing pasien,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya mengenali faktor pencetus kejang yang dapat berbeda pada setiap individu, seperti kurang tidur, stres, kelelahan, atau ketidakpatuhan dalam mengonsumsi obat. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut, pasien diharapkan dapat mengelola gaya hidupnya dengan lebih baik untuk mencegah kekambuhan.

“Kami mengimbau agar pasien rutin melakukan kontrol ke dokter agar perkembangan kondisi dapat dipantau secara berkala. Selain itu, dukungan sosial memiliki peran yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang epilepsi. Lingkungan keluarga, sekolah, maupun tempat kerja diharapkan dapat memberikan pemahaman dan penerimaan yang baik sehingga pasien tidak merasa terisolasi,” imbaunya.

Ia berharap melalui edukasi yang terus dilakukan, masyarakat semakin terbuka dan mampu memberikan dukungan yang positif bagi penyandang epilepsi. Edukasi yang diberikan tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, tetapi juga untuk memberikan dukungan moral kepada pasien agar lebih percaya diri dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Dengan penanganan yang tepat, dukungan keluarga, serta lingkungan yang lebih inklusif, penyandang epilepsi diharapkan mampu hidup dengan kualitas yang lebih baik,” tukasnya.(*)
 
Top