RS M. Djamil Edukasi Pasien Hemodialisis tentang Pentingnya Perawatan Akses Vaskuler
PADANG – Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil Padang terus meningkatkan edukasi kesehatan bagi pasien hemodialisis atau cuci darah. Kali ini, edukasi difokuskan pada pentingnya merawat akses vaskuler guna mencegah infeksi, mengurangi risiko komplikasi, dan menjaga kelancaran terapi.
Kegiatan edukasi tersebut dilaksanakan oleh Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan di Unit Hemodialisa Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT), Kamis (8/10/2026). Dalam kegiatan ini, pasien diberikan pemahaman mengenai jenis akses vaskuler, cara perawatan yang benar, serta tanda-tanda bahaya yang perlu segera dilaporkan kepada tenaga kesehatan.
Edukasi menghadirkan enam narasumber, yakni Ns. Flariana, S.Kep., Ns. Devi Harliza, Ns. Trinaldi, S.Kep., Rusmiati Tursip, Amd.Kep., Okfajrianda, Amd.Kep., dan Rhiska, Amd.Kep.
Dalam pemaparannya, Ns. Flariana menjelaskan bahwa akses vaskuler merupakan jalur yang digunakan untuk mengalirkan darah dari tubuh pasien menuju mesin hemodialisis untuk disaring, kemudian dikembalikan ke dalam tubuh.
“Akses vaskuler merupakan bagian yang sangat penting dalam proses hemodialisis. Karena itu, pasien perlu memahami jenis akses yang digunakan serta cara merawatnya dengan benar agar tetap berfungsi optimal dan risiko komplikasi dapat diminimalkan,” jelasnya.
Ia menerangkan, terdapat dua jenis akses vaskuler yang umum digunakan pasien hemodialisis, yaitu Catheter Double Lumen (CDL) dan Arteriovenous Fistula (AVF) atau AV-Shunt, yang juga dikenal sebagai Cimino.
CDL merupakan kateter dengan dua saluran yang digunakan untuk mengalirkan darah menuju dan dari mesin hemodialisis. Sementara itu, AV-Shunt merupakan hubungan antara arteri dan vena yang dibuat melalui tindakan operasi, umumnya pada lengan, untuk mendukung aliran darah selama proses cuci darah.
Menurut Ns. Flariana, perawatan CDL sangat penting untuk mencegah infeksi dan perdarahan, menghindari sumbatan maupun kerusakan kateter, serta menjaga keamanan pasien selama menjalani terapi.
Pasien diimbau untuk menjaga area pemasangan kateter tetap bersih dan kering, memastikan perban pelindung terpasang dengan baik, serta mencuci tangan sebelum menyentuh area di sekitarnya. Pemeriksaan kondisi area pemasangan setiap hari juga penting untuk mengetahui apabila terdapat perubahan yang perlu mendapat perhatian.
Saat mandi, pasien perlu melindungi area pemasangan CDL agar tidak terkena air secara langsung. Apabila perban basah, kotor, atau terlepas, pasien dianjurkan segera menghubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Pasien juga diingatkan agar tidak membuka atau mengganti perban sendiri tanpa arahan tenaga kesehatan. Kateter tidak boleh ditarik, ditekuk, ataupun diputar karena dapat merusak kateter atau mengganggu posisinya. Pasien yang menggunakan CDL juga tidak dianjurkan berenang atau berendam.
Selain memahami cara perawatan, pasien perlu mengenali tanda-tanda bahaya yang dapat mengindikasikan infeksi atau komplikasi, seperti kemerahan, pembengkakan, nyeri, keluarnya cairan atau nanah, serta perdarahan pada area pemasangan kateter. Demam dan menggigil juga perlu diwaspadai dan segera dilaporkan kepada tenaga kesehatan.
“Pasien dan keluarga perlu mengenali perubahan pada area pemasangan kateter. Jika muncul tanda-tanda seperti kemerahan, bengkak, nyeri, keluar cairan, perdarahan, demam, atau menggigil, jangan menunda untuk melaporkannya kepada tenaga kesehatan,” tegasnya.
Melalui edukasi ini, RSUP Dr. M. Djamil berharap pasien hemodialisis dan keluarga semakin memahami pentingnya menjaga akses vaskuler dalam aktivitas sehari-hari. Pengetahuan dan kepatuhan terhadap petunjuk tenaga kesehatan diharapkan dapat membantu menjaga fungsi akses vaskuler, mendukung kelancaran terapi, serta mengurangi risiko komplikasi.
Edukasi ini menjadi bagian dari upaya rumah sakit untuk meningkatkan keterlibatan pasien dan keluarga dalam perawatan, sehingga terapi hemodialisis dapat berlangsung dengan lebih aman dan optimal.
