Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

RS M. Djamil Dorong Kolaborasi Multidisiplin untuk Tingkatkan Mutu Pelayanan Pasien



PADANG — Kompleksitas kasus kesehatan yang semakin beragam mendorong rumah sakit memperkuat kolaborasi lintas disiplin dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Hal itu menjadi salah satu fokus dalam Pertemuan Ilmiah Berkala (PIB) XXVI Ilmu Penyakit Dalam yang digelar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK Unand) bersama RS M. Djamil dan Perhimpunan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Sumatera Barat.

Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu hingga Minggu, 26–27 September 2026, tersebut mengusung tema “Transforming Patient Care in Internal Medicine Through Multidisciplinary Approaches”.

Direktur Medik dan Keperawatan RS M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL (K), hadir sekaligus memberikan sambutan pada kegiatan ilmiah tersebut.

Bestari mengatakan, pendekatan multidisiplin menjadi semakin penting dalam pelayanan kesehatan karena pasien dapat datang dengan kondisi yang kompleks serta memiliki lebih dari satu masalah kesehatan.

“Pasien datang dengan kondisi yang semakin kompleks sehingga penanganannya tidak dapat dilakukan oleh satu disiplin ilmu saja. Dibutuhkan kolaborasi, komunikasi dan koordinasi yang baik antara berbagai disiplin agar pelayanan yang diberikan benar-benar berorientasi pada kebutuhan pasien,” ujar Bestari.

Menurutnya, kolaborasi multidisiplin tidak hanya melibatkan dokter dari berbagai bidang spesialisasi. Pendekatan tersebut juga mencakup kerja sama antara dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya, akademisi serta berbagai unsur yang terlibat dalam proses pelayanan pasien.

Ia menegaskan, transformasi pelayanan kesehatan tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi maupun metode baru. Setiap inovasi harus memberikan dampak nyata terhadap kualitas pelayanan, pengalaman pasien dan aspek keselamatan pasien.

“Transformasi pelayanan bukan sekadar menghadirkan teknologi atau metode baru. Transformasi harus mampu memberikan dampak nyata terhadap pengalaman dan keselamatan pasien. Karena itu, setiap inovasi dan pengembangan keilmuan harus kita arahkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan,” katanya.

Bestari juga menilai forum ilmiah seperti PIB memiliki peran penting dalam memperbarui pengetahuan dan kompetensi tenaga kesehatan. Selain menjadi ruang bertukar pengalaman klinis, forum tersebut juga menjadi sarana membahas perkembangan ilmu dan berbagai pendekatan dalam penanganan penyakit.

“Rumah sakit pendidikan memiliki tanggung jawab untuk terus membangun budaya belajar. Pelayanan, pendidikan dan penelitian harus berjalan bersama,” ujarnya.

Ia menyebut RS M. Djamil sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan memiliki peran strategis dalam pengembangan pelayanan kesehatan di Sumatera Barat dan wilayah sekitarnya. Kompleksitas kasus yang ditangani di rumah sakit rujukan menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat kolaborasi antarprofesi dan antardisiplin.

Dalam pelayanan penyakit dalam, pendekatan tersebut menjadi semakin relevan karena tidak sedikit pasien yang memiliki penyakit penyerta atau komorbiditas. Kondisi tersebut membutuhkan penilaian dan pengambilan keputusan klinis secara komprehensif.

“Pasien adalah pusat dari seluruh proses pelayanan. Ketika kita menempatkan pasien sebagai pusat, maka kolaborasi menjadi kebutuhan, bukan lagi sekadar pilihan. Kita perlu memastikan seluruh tenaga kesehatan dapat bekerja dalam satu sistem yang terintegrasi,” katanya.

Dokter Dituntut Terus Perbarui Kompetensi

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.Onk.(K), FACS, FFSTEd, mengatakan perkembangan ilmu kedokteran berlangsung sangat cepat.

Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut dokter dan tenaga kesehatan untuk terus belajar serta memperbarui kompetensi agar perkembangan keilmuan dapat diterapkan dalam pelayanan.

“Perkembangan ilmu kedokteran sangat cepat. Karena itu, dokter tidak boleh berhenti belajar. Pertemuan ilmiah menjadi ruang untuk bertukar pengetahuan, menyampaikan hasil penelitian, membahas pengalaman klinis dan bersama-sama mencari pendekatan terbaik dalam memberikan pelayanan kepada pasien,” ujar Sukri.

Ia mengatakan pendekatan multidisiplin juga semakin dibutuhkan seiring meningkatnya kompleksitas persoalan kesehatan. Setiap bidang keilmuan memiliki kompetensi dan perspektif yang berbeda sehingga diperlukan komunikasi dan koordinasi yang baik agar pelayanan dapat diberikan secara menyeluruh.

“Pelayanan pasien yang baik membutuhkan kerja tim. Masing-masing disiplin memiliki kompetensi dan perspektif yang berbeda, dan ketika semuanya dipadukan dengan komunikasi serta koordinasi yang baik, maka pelayanan kepada pasien dapat menjadi lebih komprehensif,” katanya.

Sukri menambahkan, pengembangan keilmuan melalui forum akademik harus memiliki keterhubungan dengan pelayanan. Hasil pembahasan dan perkembangan ilmu diharapkan dapat diterapkan dalam praktik dengan tetap mengedepankan bukti ilmiah, keselamatan pasien dan kebutuhan masyarakat.

“Perkembangan keilmuan yang dibahas dalam forum akademik tidak boleh berhenti pada ruang seminar, tetapi perlu diterapkan dalam praktik pelayanan dengan tetap memperhatikan bukti ilmiah, keselamatan pasien dan kebutuhan masyarakat,” tukasnya.

Melalui PIB XXVI, kolaborasi antara unsur akademik, rumah sakit dan organisasi profesi diharapkan terus memperkuat budaya pembelajaran sekaligus mendorong peningkatan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan dan keselamatan pasien.