Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

RS M. Djamil Kenalkan Senam Intradialisis bagi Pasien Hemodialisis



PADANG — Pasien yang menjalani hemodialisis tetap dapat melakukan aktivitas fisik ringan selama proses terapi, selama gerakan dilakukan secara aman dan sesuai kondisi masing-masing.

Hal tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan dalam edukasi kesehatan bagi pasien di Unit Hemodialisa Instalasi Diagnostik Terpadu RS M. Djamil, Selasa (6/10/2026). Kegiatan yang digelar melalui Instalasi Humas dan Promosi Kesehatan RS M. Djamil tersebut memperkenalkan senam intradialisis sebagai bentuk aktivitas fisik ringan bagi pasien selama menjalani hemodialisis.

Edukasi menghadirkan sejumlah tenaga kesehatan sebagai narasumber, yakni Ns. Rosana Situmorang, S.Kep., Ns. Agung Kurniawan, S.Kep., Ns. Yuliafitri, S.Kep., Ns. Nengsih Indra, S.Kep., serta Alfakhry Dzaki, Amd.Kep.

Ns. Rosana Situmorang menjelaskan, senam intradialisis merupakan latihan fisik ringan yang dilakukan selama proses hemodialisis. Gerakan yang diberikan bukan olahraga berat, melainkan aktivitas sederhana yang disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi pasien.

“Senam intradialisis merupakan latihan fisik ringan yang dilakukan selama proses hemodialisis. Gerakannya sederhana dan disesuaikan dengan kondisi pasien, sehingga pasien tetap dapat melakukan aktivitas fisik dengan memperhatikan keamanan selama menjalani terapi,” jelas Rosana.

Menurutnya, pasien yang menjalani hemodialisis secara rutin tetap perlu menjaga kemampuan fisiknya. Durasi terapi yang cukup panjang dan frekuensi tindakan yang dilakukan secara berkala membuat waktu pasien untuk beraktivitas menjadi terbatas.

“Pasien hemodialisis menjalani terapi secara rutin dan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam satu kali tindakan. Karena itu, aktivitas fisik ringan yang aman dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu pasien tetap bergerak selama proses hemodialisis,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, pasien diperkenalkan dengan sejumlah gerakan sederhana yang dapat dilakukan selama menjalani terapi. Pelaksanaan gerakan tetap memperhatikan posisi pasien serta kondisi akses vaskular agar tidak mengganggu proses hemodialisis.

Rosana menekankan, senam intradialisis tidak boleh dilakukan dengan memaksakan kemampuan tubuh. Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda sehingga jenis dan intensitas aktivitas fisik harus disesuaikan.

“Pasien tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti semua gerakan. Yang paling penting adalah tetap memperhatikan kondisi tubuh. Jika muncul keluhan atau rasa tidak nyaman, segera sampaikan kepada petugas,” katanya.

Selain penyampaian materi, edukasi juga diisi dengan praktik langsung. Pasien diajak mengikuti gerakan senam intradialisis yang diperagakan oleh narasumber sehingga dapat memahami cara melakukan aktivitas fisik secara tepat.

Kegiatan berlangsung interaktif. Pasien tidak hanya menyimak penjelasan, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk bertanya dan memahami berbagai hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan aktivitas fisik selama menjalani hemodialisis.

Rosana berharap edukasi tersebut dapat memberikan pengetahuan praktis bagi pasien sehingga mereka tetap dapat menjaga aktivitas fisik selama menjalani terapi dengan mengutamakan keamanan.

“Harapannya, pasien mendapatkan pengetahuan yang bisa diterapkan selama menjalani hemodialisis. Pasien tetap bisa bergerak, tetapi tentu dengan gerakan yang aman, sesuai kemampuan dan mengikuti arahan tenaga kesehatan,” tuturnya.(*)