RS M. Djamil dan PDSKJ Sumbar Edukasi Kesehatan Jiwa di Puskesmas Lubukbuaya
PADANG — Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) M. Djamil Padang bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJ) Cabang Sumatera Barat menggelar edukasi kesehatan jiwa bagi masyarakat di Puskesmas Lubukbuaya, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dengan mengusung tema “Dari Suara Menjadi Kepedulian: Meningkatkan Literasi dan Akses Layanan Kesehatan Jiwa Berbasis Komunitas di Kota Padang.”
Kegiatan diikuti peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Puskesmas Lubukbuaya. Edukasi disampaikan dr. Eldi Sauma, Sp.KJ melalui materi “Didengar, Dipahami, dan Dibantu: Mengenali Masalah Kesehatan Jiwa dan Mencari Pertolongan.”
Dalam penyampaiannya, peserta diajak mengenali berbagai tanda awal masalah kesehatan jiwa, baik yang terjadi pada diri sendiri maupun orang-orang di lingkungan sekitar.
Sejumlah perubahan seperti gangguan tidur, perubahan suasana hati, kecemasan berlebihan, kehilangan minat terhadap aktivitas, sulit berkonsentrasi, hingga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan tersebut juga menyoroti persoalan stigma yang masih menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kesehatan jiwa. Rasa malu, takut mendapat penilaian negatif, maupun anggapan bahwa meminta bantuan merupakan tanda kelemahan dapat membuat seseorang enggan mencari pertolongan.
Psikiater RS M. Djamil, Dr. dr. Rini Gusya Liza, M.Ked., Sp.KJ mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan jiwa.
“Kegiatan pengabdian masyarakat dengan tema ‘Dari Suara Menjadi Kepedulian: Meningkatkan Literasi dan Akses Layanan Kesehatan Jiwa Berbasis Komunitas di Kota Padang’ ini diselenggarakan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan jiwa,” ujarnya.
Menurutnya, peningkatan literasi kesehatan jiwa diperlukan agar masyarakat mampu mengenali tanda-tanda awal masalah kesehatan jiwa, memahami pentingnya mencari bantuan, serta mengetahui akses layanan yang dapat dimanfaatkan.
“Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan literasi, membantu masyarakat mengenali tanda awal masalah kesehatan jiwa, mengurangi stigma, serta meningkatkan pengetahuan mengenai akses dan pemanfaatan layanan kesehatan jiwa melalui penguatan jejaring lintas profesi dan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, upaya menjaga kesehatan jiwa membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari rumah sakit, puskesmas, tenaga kesehatan, organisasi profesi, pemerintah, akademisi, keluarga hingga masyarakat.
Pendekatan berbasis komunitas dinilai penting karena masyarakat merupakan lingkungan terdekat seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan lingkungan yang mampu mengenali tanda-tanda masalah kesehatan jiwa dan memberikan dukungan yang tepat, pertolongan dapat diberikan lebih dini.
Dalam kegiatan tersebut, peserta Prolanis juga mendapatkan kesempatan mengikuti konseling dan skrining kesehatan jiwa. Layanan ini memberikan ruang bagi peserta untuk mengenali kondisi kesehatan jiwanya serta memperoleh informasi mengenai langkah yang dapat dilakukan apabila membutuhkan bantuan lebih lanjut.
Kepala Puskesmas Lubukbuaya, dr. Muhammad Fardhan, M.K.M., mengapresiasi kegiatan pengabdian masyarakat tersebut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada RS M. Djamil dan PDSKJ Cabang Sumatera Barat yang telah melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Puskesmas Lubukbuaya. Kegiatan ini tentu sangat bermanfaat bagi masyarakat, terutama untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian terhadap kesehatan jiwa,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi antara Puskesmas Lubukbuaya, RS M. Djamil dan PDSKJ Sumatera Barat dapat terus berlanjut sehingga edukasi serta pelayanan kesehatan jiwa semakin dekat dengan masyarakat.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Selain mengikuti edukasi, peserta juga aktif berdiskusi dan menyampaikan pertanyaan mengenai berbagai persoalan kesehatan jiwa yang dapat muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap kesehatan jiwa dapat dimulai dari hal sederhana, yakni kesediaan untuk mendengar dan memahami.
Melalui peningkatan literasi, pengurangan stigma, serta akses layanan yang semakin dekat, masyarakat diharapkan semakin berani mencari pertolongan dan mendapatkan penanganan kesehatan jiwa secara cepat dan tepat.
