RS M. Djamil dan FKG UI Perkuat Layanan Bedah Mulut
PADANG – RSUP Dr. M. Djamil Padang memperkuat kompetensi tenaga medis dalam penanganan kasus bedah mulut dan maksilofasial melalui kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI), Rabu (28/10/2026).
Kegiatan ini melibatkan Prof. Norifumi Nakamura, DDS, Ph.D., dan Dr. drg. Yudy Ardilla Utomo, Sp.BMMF, SubSp.IDM(K), melalui sharing session dan proctorship atau pendampingan profesional dalam pelaksanaan tindakan bedah kompleks, yakni gnatoplasty dan alveolar bone graft dengan pengambilan tulang autograft dari krista iliaka atau tulang panggul pasien.
Direktur Medik dan Keperawatan RS M. Djamil, Dr. dr. Bestari Jaka Budiman, Sp.THT-KL(K), mengatakan kolaborasi dengan para ahli dan institusi pendidikan menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan rujukan, khususnya dalam penanganan kasus yang membutuhkan keahlian multidisiplin.
“Sebagai rumah sakit rujukan utama dan rumah sakit pendidikan di wilayah Sumatera Bagian Tengah, RS M. Djamil memiliki tanggung jawab untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan kemampuan klinis dalam menangani berbagai kasus kompleks,” ujarnya saat memberikan sambutan di Ruang Rapat Direksi.
Menurut Bestari, peningkatan mutu pelayanan tidak hanya bergantung pada ketersediaan fasilitas dan teknologi medis, tetapi juga pada kompetensi sumber daya manusia, penerapan standar klinis, serta koordinasi yang optimal antarprofesi kesehatan.
Ia menjelaskan, penanganan kasus celah bibir dan langit-langit (cleft lip and palate) membutuhkan pendekatan komprehensif karena dapat memengaruhi fungsi bicara, proses mengunyah, pertumbuhan rahang, susunan gigi, hingga perkembangan psikososial anak.
“Kasus celah bibir dan langit-langit bukan sekadar persoalan estetika. Kondisi ini merupakan masalah klinis yang kompleks dan memerlukan penanganan terpadu sejak tahap awal hingga proses rekonstruksi dan rehabilitasi,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, tim klinis RS M. Djamil memperoleh kesempatan memperdalam pengetahuan dan keterampilan melalui pendampingan tindakan gnatoplasty serta alveolar bone graft. Kedua prosedur ini memerlukan perencanaan matang, pemahaman anatomi yang mendalam, ketepatan teknik pembedahan, serta pertimbangan terhadap fungsi dan pertumbuhan dentofasial pasien.
Bestari menegaskan, keberhasilan tindakan rekonstruksi tidak terlepas dari kerja sama lintas disiplin, mulai dari Bedah Mulut dan Maksilofasial, Bedah Plastik Rekonstruksi, Telinga Hidung Tenggorok (THT), Anestesiologi, hingga tim keperawatan perioperatif di Instalasi Bedah Sentral.
“Diperlukan kerja sama yang solid, komunikasi yang efektif, dan pemahaman bersama terhadap rencana tata laksana pasien. Dengan kolaborasi multidisiplin, setiap tahapan pelayanan dapat dipersiapkan secara komprehensif, mulai dari evaluasi sebelum operasi hingga pemantauan pascaoperasi,” tuturnya.
Melalui proctorship, proses pembelajaran tidak hanya berlangsung dalam diskusi ilmiah, tetapi juga melalui pendampingan langsung oleh tenaga ahli. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman tim klinis mengenai prinsip, pertimbangan teknis, dan evaluasi tindakan bedah kompleks.
Lebih lanjut, Bestari berharap kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam mengembangkan layanan rekonstruksi dentofasial di RS M. Djamil.
“Tujuan akhirnya adalah agar masyarakat Sumatera Barat dan wilayah sekitarnya dapat memperoleh akses terhadap pelayanan yang semakin lengkap, berkualitas, dan aman, tanpa harus selalu dirujuk ke luar daerah apabila tindakan tersebut dapat dilakukan di RS M. Djamil sesuai indikasi dan kesiapan klinis,” pungkasnya.
Kolaborasi RS M. Djamil dan FKG UI ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi tenaga medis, tetapi juga memperkuat kapasitas rumah sakit dalam memberikan pelayanan rujukan yang bermutu, aman, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
