Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

RS M. Djamil Perkuat Kolaborasi 82 Rumah Sakit di Sumbar



PADANG — Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil Padang terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu dan keselamatan pasien melalui penguatan pencegahan dan pengendalian infeksi serta penggunaan antimikroba secara bijak.

Upaya tersebut diwujudkan melalui persiapan Simposium Pengendalian Infeksi dan Antimikroba di Rumah Sakit Jejaring RS M. Djamil yang direncanakan berlangsung pada 3 Oktober 2026. Kegiatan ini akan melibatkan rumah sakit jejaring di Sumatera Barat serta mendapat dukungan dari pemerintah daerah.

Persiapan kegiatan tersebut dibahas dalam audiensi Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, bersama Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), Pencegahan Resistensi Antimikroba (PRA) dan Farmasi Terapi (FT), Dr. dr. Andani Eka Putra, M.Sc, dengan Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat, dr. Aklima, MPH, di ruang kerja Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, Selasa (8/9/2026).

Audiensi tersebut menjadi bagian dari langkah koordinasi untuk memastikan pelaksanaan simposium dapat menjadi forum pembelajaran bersama bagi rumah sakit di Sumatera Barat. Selain membahas perkembangan ilmu dan kebijakan, kegiatan ini diharapkan memperkuat jejaring serta menyamakan persepsi dalam penerapan program PPI, PRA dan Farmasi Terapi.

Direktur Utama RS M. Djamil, Dovy Djanas, mengatakan pengendalian infeksi dan resistensi antimikroba merupakan persoalan yang membutuhkan komitmen bersama dari seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

“Pengendalian infeksi dan resistensi antimikroba merupakan bagian penting dari upaya kita menjaga mutu dan keselamatan pasien. Karena itu, diperlukan kolaborasi yang kuat antara RS M. Djamil, rumah sakit jejaring, Dinas Kesehatan dan seluruh tenaga kesehatan agar berbagai program yang dijalankan dapat memberikan dampak yang lebih luas,” ujar Dovy.

Menurutnya, simposium tersebut tidak hanya diarahkan sebagai forum penyampaian informasi dan perkembangan terbaru, tetapi juga menjadi ruang bagi rumah sakit untuk saling bertukar pengalaman mengenai praktik yang telah diterapkan, tantangan yang dihadapi hingga solusi yang dapat dikembangkan bersama.

“Melalui simposium ini kita ingin membangun forum pembelajaran bersama. Rumah sakit dapat saling berbagi pengalaman tentang praktik yang sudah berjalan, tantangan yang dihadapi, serta solusi yang dapat diterapkan,” katanya.

Dovy berharap hasil pembahasan dalam simposium nantinya tidak berhenti pada forum diskusi, tetapi dapat diimplementasikan secara konsisten di masing-masing rumah sakit.

Sebagai rumah sakit rujukan di Sumatera Barat, RS M. Djamil, lanjutnya, memiliki tanggung jawab untuk turut mendorong peningkatan kapasitas rumah sakit jejaring. Penguatan jejaring dinilai penting karena kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya bergantung pada kemampuan satu fasilitas, tetapi juga ditentukan oleh koordinasi dan keterhubungan antarfasilitas pelayanan.

“RS M. Djamil tidak bisa berjalan sendiri. Kita memiliki rumah sakit jejaring yang merupakan bagian penting dalam sistem rujukan dan pelayanan kesehatan di Sumatera Barat. Karena itu, peningkatan mutu harus kita lakukan bersama-sama, termasuk dalam pengendalian infeksi dan penggunaan antimikroba yang rasional,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat, dr. Aklima, MPH, menyambut baik rencana pelaksanaan simposium tersebut. Menurutnya, pengendalian infeksi dan resistensi antimikroba merupakan isu penting yang membutuhkan kolaborasi lintas fasilitas pelayanan kesehatan.

Ia menyebutkan, saat ini terdapat 82 rumah sakit di Sumatera Barat, baik milik pemerintah maupun swasta. Jumlah tersebut dinilai menjadi potensi besar untuk membangun gerakan bersama dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.

“Di Sumatera Barat terdapat 82 rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta. Jumlah ini tentu menjadi kekuatan yang besar apabila seluruh rumah sakit dapat bergerak bersama dan memiliki komitmen yang sama dalam meningkatkan mutu pelayanan,” kata Aklima.

Ia berharap simposium yang digagas RS M. Djamil dapat menjadi momentum memperkuat komunikasi dan koordinasi antarrumah sakit, termasuk dalam penerapan program pencegahan dan pengendalian infeksi serta pengendalian resistensi antimikroba.

“Kami mendukung pelaksanaan kegiatan ini karena pengendalian infeksi dan antimikroba merupakan tanggung jawab bersama. Kita berharap melalui forum seperti ini akan terjadi pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang kemudian dapat diterapkan di masing-masing rumah sakit,” ujarnya.

Aklima juga menekankan pentingnya membangun budaya mutu dan keselamatan pasien secara berkelanjutan. Pencegahan infeksi, menurutnya, harus menjadi bagian dari budaya kerja tenaga kesehatan, sementara penggunaan antimikroba perlu dilakukan secara tepat dan bertanggung jawab guna mencegah berkembangnya resistensi antimikroba.

“Penguatan sistem harus dilakukan secara berkelanjutan. Kita tidak hanya berbicara mengenai kebijakan, tetapi juga bagaimana kebijakan tersebut diterapkan dalam pelayanan sehari-hari. Karena itu, peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan kolaborasi antarrumah sakit menjadi sangat penting,” pungkasnya.