Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

RS M. Djamil Perkuat Dukungan, RS Unand Ditargetkan Jadi Rumah Sakit Pendidikan Utama 2027



PADANG — RSUP Dr. M. Djamil Padang memperkuat dukungan strategis terhadap Rumah Sakit Universitas Andalas (RS Unand) dalam mewujudkan target sebagai Rumah Sakit Pendidikan Utama pada 2027. Kolaborasi tersebut mencakup penguatan pendidikan klinik, pelayanan, penelitian, mutu, tata kelola hingga hilirisasi hasil riset.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Utama RS M. Djamil, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua, saat menghadiri sekaligus memberikan pemaparan dalam Rapat Kerja RS Universitas Andalas, Rabu (30/9/2026).

Dalam kesempatan itu, Dovy menyampaikan materi bertajuk “Kolaborasi dan Dukungan RS Unand Menuju Rumah Sakit Pendidikan Utama Tahun 2027.”

Dovy menegaskan, perjalanan RS Unand menuju Rumah Sakit Pendidikan Utama membutuhkan kolaborasi yang konkret dan berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Menurutnya, rumah sakit pendidikan tidak cukup hanya memiliki pelayanan dan pendidikan klinik yang kuat. Lebih dari itu, pendidikan, pelayanan, dan penelitian harus terintegrasi dalam satu ekosistem.

“RS M. Djamil memberikan dukungan atas rencana RS Unand menuju Rumah Sakit Pendidikan Utama Tahun 2027. Kita ingin kolaborasi ini benar-benar mengintegrasikan pendidikan klinik, pelayanan dan penelitian dalam satu ekosistem kesehatan,” ujar Dovy.

Ia menjelaskan, integrasi ketiga unsur tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan rumah sakit pendidikan secara berkelanjutan. Pendidikan klinik membutuhkan dukungan layanan yang kuat, sementara pelayanan membutuhkan pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi.

Di sisi lain, penelitian harus diarahkan untuk menjawab persoalan nyata yang ditemukan dalam pelayanan kesehatan.

Sebagai bentuk dukungan, RS M. Djamil menyiapkan sejumlah langkah konkret, mulai dari mentoring klinik, berbagi keahlian, penguatan jejaring pendidikan, riset bersama, hingga penguatan mutu dan tata kelola.

“Mentoring klinik menjadi salah satu bentuk dukungan yang kita berikan. Kita ingin ada transfer knowledge dan pengalaman sehingga pengembangan RS Unand bisa dilakukan dengan fondasi yang semakin kuat,” katanya.

Dorong RS Unand Bangun Ekosistem Riset

Selain memperkuat pendidikan klinik, kolaborasi juga diarahkan pada pengembangan penelitian. Dovy menilai riset harus menjadi salah satu mesin penggerak inovasi di rumah sakit.

Menurutnya, penelitian tidak boleh berhenti pada dokumen akademik maupun publikasi ilmiah. Hasil penelitian harus dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang memberikan manfaat terhadap pelayanan dan masyarakat.

RS M. Djamil sendiri telah mengembangkan ekosistem penelitian melalui Clinical Research Unit (CRU). Unit tersebut berperan dalam mengoordinasikan kegiatan penelitian agar berjalan lebih terarah, terintegrasi, dan memiliki target yang jelas.

“Di RS M. Djamil, ekosistem riset berada di bawah koordinasi Clinical Research Unit. Ini penting agar penelitian tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi terintegrasi dengan kebutuhan pendidikan dan pelayanan,” jelasnya.

Dovy berharap konsep tersebut juga dapat dikembangkan di RS Unand. Menurutnya, pendirian CRU dapat menjadi langkah strategis untuk mengonsolidasikan kegiatan penelitian sekaligus memperkuat posisi rumah sakit sebagai pusat pengembangan ilmu dan inovasi kesehatan.

“Mudah-mudahan RS Unand juga memfokuskan pada penelitian dengan mendirikan CRU. Dengan CRU, penelitian bisa dikelola lebih sistematis dan diarahkan untuk mendukung pendidikan, pelayanan, serta pengembangan inovasi,” ujarnya.

Perkuat Kolaborasi Triple Helix

Dovy juga menekankan pentingnya membangun kolaborasi triple helix, yakni keterlibatan akademisi, pemerintah, dan industri dalam pengembangan riset.

Kolaborasi tersebut dinilai dapat membuka peluang lebih besar agar hasil penelitian tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat dihilirkan menjadi produk, teknologi, kebijakan, maupun inovasi yang dibutuhkan masyarakat.

“Fokus utama kita adalah hilirisasi penelitian dan riset kebijakan untuk peningkatan hasil pelayanan. Jadi, penelitian harus memberikan manfaat yang nyata, bukan hanya berhenti pada publikasi,” tegas Dovy.

Dalam upaya memperluas jejaring tersebut, RS M. Djamil telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak, di antaranya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), PT Bio Farma, dan PT Kimia Farma.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari penguatan jejaring penelitian sekaligus membuka peluang hilirisasi inovasi di bidang kesehatan.

Dovy menilai pola kolaborasi serupa dapat dikembangkan RS Unand dengan mempertemukan kebutuhan pelayanan, kekuatan akademik, serta potensi industri.

Menuju Kemandirian Rumah Sakit

Selain pendidikan dan penelitian, penguatan mutu serta tata kelola juga menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju status Rumah Sakit Pendidikan Utama.

Dovy menilai status tersebut harus dibangun melalui sistem yang kuat, terukur, dan konsisten. Pendidikan, pelayanan, dan penelitian harus berjalan dalam tata kelola yang saling terhubung sehingga setiap aktivitas rumah sakit memberikan nilai tambah bagi pasien, peserta didik, tenaga kesehatan, peneliti maupun institusi.

Ia menambahkan, target menjadi Rumah Sakit Pendidikan Utama pada 2027 harus dipandang sebagai bagian dari proses menuju kemandirian institusi.

“Intervensi hari ini untuk kemandirian esok hari,” tegas Dovy. (*)