BAKTI FK Unand 2026, RS M Djamil Dorong Calon Dokter Adaptif, Berintegritas, dan Berorientasi pada Manfaat
Pesan tersebut disampaikan Dovy saat menghadiri sekaligus memberikan sambutan dalam kegiatan Bimbingan Aktivitas Kemahasiswaan dalam Tradisi Ilmiah (BAKTI) FK Unand 2026, Jumat (14/8/2026).
Dovy mengatakan, transformasi kesehatan yang tengah berlangsung di Indonesia membutuhkan sumber daya manusia kesehatan yang tidak hanya kuat secara klinis, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menurut dia, pendidikan kedokteran tidak seharusnya hanya diarahkan untuk mengejar kelulusan dan gelar akademik. Proses tersebut harus menjadi ruang pembentukan karakter, kemampuan berpikir kritis, serta kebiasaan belajar sepanjang hayat.
“Pendidikan kedokteran yang kalian jalani tidak boleh hanya berorientasi pada lulus ujian dan mendapatkan gelar,” ujar Dovy.
Ia meminta mahasiswa mulai membangun tradisi akademik melalui kebiasaan membaca, bertanya, berdiskusi, melakukan penelitian, berkolaborasi, serta mengevaluasi diri.
Dovy menilai kegiatan BAKTI memiliki posisi penting karena dapat menjadi titik awal mahasiswa mengenal sekaligus membangun budaya akademik dan tradisi ilmiah selama menjalani pendidikan kedokteran.
“BAKTI bukan sekadar rangkaian kegiatan untuk mengenalkan kampus. BAKTI adalah momentum untuk mulai membangun tradisi ilmiah dan budaya akademik,” katanya.
Pentingnya kemampuan verifikasi informasi
Di tengah derasnya arus informasi digital, Dovy juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah menerima informasi tanpa melakukan verifikasi.
Menurutnya, kemampuan memilah dan memastikan kebenaran informasi merupakan bagian penting dari pola pikir ilmiah yang harus dimiliki calon dokter.
“Mulailah membiasakan diri untuk tidak mudah percaya terhadap informasi tanpa melakukan verifikasi,” ujarnya.
Ia menilai kebiasaan tersebut akan membantu mahasiswa membangun sikap kritis, terutama ketika menghadapi berbagai perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi kesehatan.
Pendidikan, pelayanan, penelitian, dan inovasi
Dovy juga menekankan pentingnya sinergi antara FK Unand dan RSUP Dr. M. Djamil sebagai institusi pendidikan dan rumah sakit pendidikan.
Kolaborasi tersebut, kata dia, tidak semestinya terbatas pada kegiatan pembelajaran klinis mahasiswa. Lebih luas, kerja sama kedua institusi perlu diarahkan untuk membangun ekosistem yang mengintegrasikan pendidikan, pelayanan kesehatan, penelitian, dan inovasi.
“Kolaborasi antara institusi pendidikan dan rumah sakit bukan hanya tentang tempat mahasiswa belajar klinis. Lebih dari itu, kita ingin membangun ekosistem di mana pendidikan, pelayanan, penelitian, dan inovasi berjalan secara bersamaan,” katanya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk memandang pasien secara utuh, bukan sekadar sebagai kasus klinis.
Menurut Dovy, kemampuan klinis harus berjalan beriringan dengan empati, komunikasi, etika, dan kepedulian. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap profesi kedokteran.
“Kita ingin mahasiswa tidak hanya melihat pasien sebagai sebuah kasus klinis, tetapi melihat pasien sebagai manusia yang membutuhkan ilmu, empati, komunikasi, dan pelayanan terbaik,” tuturnya.
Tiga karakter calon dokter masa depan
Khusus kepada Generasi Aeter FK Unand 2026, Dovy menitipkan tiga karakter yang perlu dibangun sejak bangku pendidikan, yakni unggul dalam ilmu, kuat dalam karakter, dan terbuka terhadap perubahan.
Ia meminta mahasiswa menguasai fundamental ilmu kedokteran dan membangun kemampuan berpikir ilmiah sebagai fondasi untuk menjalani pendidikan serta praktik kedokteran di masa depan.
Selain kompetensi akademik, karakter juga menjadi perhatian. Integritas, etika, disiplin, tanggung jawab, serta sikap menghormati pasien, dosen, tenaga kesehatan, dan sesama mahasiswa, menurutnya, harus dibentuk sejak dini.
Dovy juga mengingatkan mahasiswa agar tidak takut menghadapi perkembangan teknologi. Teknologi, kata dia, perlu dipelajari dan dimanfaatkan secara bijak dengan tetap mempertimbangkan aspek keamanan, etika, dan tanggung jawab profesi.
“Jangan hanya mengejar nilai. Kejar kompetensi. Jangan hanya mengejar gelar. Bangun integritas. Jangan hanya mengejar karier. Bangun manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, proses belajar seorang dokter tidak berhenti setelah memperoleh gelar. Perkembangan penyakit, teknologi kesehatan, metode diagnosis, dan pengobatan yang terus berubah menuntut dokter untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.
“Seorang dokter yang berhenti belajar, pada hakikatnya sedang berhenti berkembang,” kata Dovy.
FK Unand dan RS M. Djamil perkuat ekosistem pendidikan
Sementara itu, Dekan FK Unand, Dr. dr. Sukri Rahman, Sp.THT-BKL, Subsp.Onk(K), FACS, FFSTED, turut menekankan pentingnya membangun budaya akademik sejak mahasiswa memulai pendidikan kedokteran.
Menurutnya, BAKTI FK Unand 2026 menjadi momentum bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik, membangun kebersamaan, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi pendidikan kedokteran yang menuntut kedisiplinan, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab.
Sukri menilai keberadaan rumah sakit pendidikan memiliki peran strategis dalam membentuk calon dokter. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai aspek klinis, tetapi juga dapat memahami secara langsung penerapan ilmu kedokteran dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Sinergi FK Unand dan RS M. Djamil diharapkan terus berkembang sehingga mahasiswa memperoleh ruang yang lebih luas untuk terlibat dalam kegiatan akademik dan ilmiah yang relevan dengan kebutuhan pelayanan kesehatan.
Melalui kolaborasi tersebut, pendidikan, pelayanan, penelitian, dan inovasi diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan untuk menyiapkan generasi dokter yang mampu menjawab tantangan kesehatan di masa mendatang.
