Kabupaten Solok- Upaya menggabungkan kekuatan sektor pertanian dan pariwisata terus didorong Pemerintah Kabupaten Solok sebagai strategi memperkuat ekonomi daerah.

Wakil Bupati (Wabup) Solok, H. Candra, melakukan kunjungan lapangan ke kawasan Alahan Panjang, tepatnya di Rimbo Tinggi Galagah, Kecamatan Lembah Gumanti, Senin (30/3/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Candra meninjau langsung aktivitas pertanian bawang milik warga yang selama ini menjadi komoditas unggulan daerah.

Ia menilai, kawasan selatan Kabupaten Solok memiliki potensi besar sebagai pusat produksi sekaligus destinasi wisata berbasis agro.

“Wilayah ini memiliki kekuatan ekonomi yang luar biasa. Hamparan pertanian bawang yang produktif bisa menjadi daya tarik tersendiri jika dipadukan dengan konsep wisata,” ujarnya.

Menurutnya, sektor pertanian tidak hanya menjadi penopang utama ekonomi masyarakat, tetapi juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan lebih modern melalui pemanfaatan teknologi.
Hal itu diyakini mampu menjaga stabilitas produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Ia juga menyinggung posisi Kabupaten Solok sebagai salah satu sentra bawang terbesar di Indonesia, yang dinilai menjadi peluang strategis untuk mendorong hilirisasi produk dan peningkatan nilai tambah.

“Potensi ini tidak boleh berhenti di produksi saja. Kita harus dorong sampai ke pengolahan dan pemasaran agar manfaat ekonominya lebih luas,” tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Candra turut mengapresiasi langkah salah seorang investor lokal, Nofrin, yang mulai mengembangkan sektor pertanian setelah sebelumnya berkiprah di bidang energi.

Menurutnya, keterlibatan pelaku usaha dan kalangan profesional menjadi sinyal positif bagi penguatan sektor agribisnis di daerah.

“Ini contoh baik bahwa pertanian kini semakin dilirik sebagai sektor investasi yang menjanjikan,” katanya.

Meski sempat menghadapi tantangan cuaca ekstrem pada musim panen sebelumnya, Candra optimistis hasil produksi ke depan akan semakin meningkat seiring dukungan teknologi dan kondisi alam yang lebih bersahabat.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu terjun ke sektor pertanian yang dinilai memiliki prospek cerah.

“Anak muda harus mulai melihat pertanian sebagai peluang usaha masa depan, bukan lagi sektor tradisional,” ujarnya.

Kunjungan tersebut dilanjutkan dengan diskusi bersama sejumlah pemangku kepentingan di kawasan wisata setempat.

Pembahasan difokuskan pada strategi pengembangan pariwisata yang terintegrasi dengan potensi lokal, termasuk kebutuhan penataan kawasan, regulasi, dan peningkatan infrastruktur.

Sejumlah masukan mengemuka, terutama terkait pentingnya pengembangan fasilitas pendukung wisata yang lebih representatif guna mengantisipasi peningkatan jumlah kunjungan.

Nofrin sebagai tuan rumah menyambut baik perhatian pemerintah daerah terhadap kawasan tersebut. Ia berharap sinergi antara sektor pertanian dan pariwisata dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kami melihat peluang besar jika pertanian dan pariwisata berjalan beriringan. Dukungan infrastruktur, termasuk fasilitas penginapan yang memadai, akan sangat menentukan perkembangan kawasan ini ke depan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, keterbatasan kapasitas penginapan saat ini menjadi salah satu tantangan yang perlu segera diatasi agar potensi wisata Alahan Panjang bisa berkembang maksimal.

Dorongan integrasi dua sektor unggulan ini diharapkan mampu menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat daya saing daerah di tingkat regional maupun nasional.
 
Top