Karya Bakti TNI AD di Mentawai Berbasis Riset, Kolaborasi UPI dan SeskoAD Perkuat Dampak Pembangunan
Dalam pelaksanaannya, program tersebut melibatkan tim peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung bersama para perwira siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SeskoAD). Kolaborasi ini dilakukan untuk mengkaji secara langsung manfaat pembangunan, termasuk perubahan sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Tim peneliti UPI terdiri dari Prof. Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., Riko Arrasyid, M.Pd., dan Dadi Mulyadi Nugraha, M.Pd. Mereka berkolaborasi dengan personel SeskoAD, yakni Letkol Inf Mansur Kole, S.Ag., M.M., Mayor Arh David Afriliansyah, S.Than., serta Mayor Inf Gafa Aditya Siswanto, S.Than.
Ketua Tim Peneliti UPI, Prof. Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., mengatakan penelitian tidak hanya melihat hasil pembangunan secara fisik, tetapi juga perubahan sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
“Kami tidak hanya melihat hasil fisik, tetapi juga perubahan sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Peninjauan Infrastruktur dan Wawancara Warga
Tim peneliti UPI bersama perwira SeskoAD turun langsung ke lapangan untuk meninjau sejumlah hasil pembangunan serta melakukan wawancara mendalam dengan masyarakat penerima manfaat maupun warga yang terdampak pembangunan.
Sejumlah lokasi yang ditinjau antara lain dua unit jembatan beton di Dusun Katiet dan Dusun Gobik, Desa Bosua, Kecamatan Sipora Selatan. Selain itu, tim juga meninjau jembatan gantung di Desa Beriulou, Kecamatan Sipora Selatan.
Keberadaan jembatan tersebut dinilai strategis karena membuka akses transportasi antardusun dan desa yang sebelumnya mengalami keterbatasan akses. Infrastruktur tersebut juga mendukung mobilitas masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi, pendidikan, sosial, hingga pelayanan kesehatan.
Program Karya Bakti TNI AD juga menghadirkan fasilitas air bersih melalui pembangunan sumur bor di sejumlah titik strategis di Kecamatan Sipora Selatan dan Sipora Utara.
Di antaranya berada di Yayasan Santo Yosef Dusun Sioban, SDN 27 Beriulou, Kantor Desa Bosua, serta kawasan permukiman warga di Nemnem Leleu Utara.
Salah seorang penerima manfaat sumur bor di Yayasan Santo Yosef, Dusun Sioban, menyampaikan apresiasi atas pembangunan tersebut.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden dan seluruh jajarannya, khususnya TNI AD, atas bantuan yang diberikan melalui Satgas Karya Bakti TNI AD untuk Rakyat. Dengan adanya sumur bor, kami merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan air di lingkungan gereja,” ungkapnya.
Jembatan Buka Akses Masyarakat
Pembangunan jembatan penghubung di Desa Bosua juga mendapat sambutan positif dari masyarakat. Warga mengaku akses yang lebih baik membuat mobilitas menjadi lebih aman dan efisien.
“Sangat membantu kami. Sekarang kami tidak perlu memutar jalan jauh. Anak-anak sekolah juga lebih aman,” kata salah seorang warga Desa Bosua.
Komandan Kodim 0319/Mentawai sekaligus Dansatgas Karya Bakti, Letkol Inf Bambang Budi Hartanto, menegaskan bahwa pembangunan jembatan merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan vital masyarakat.
“Jembatan ini bukan sekadar penghubung dua wilayah, melainkan jembatan kemajuan ekonomi dan kemudahan akses warga untuk keperluan pendidikan, kesehatan maupun perdagangan hasil bumi,” ujarnya.
Sementara itu, di lokasi sumur bor Desa Beriulou, tim peneliti turut melihat langsung pemanfaatan fasilitas tersebut. Para murid sekolah bahkan tampak mencoba fasilitas air dengan mencuci tangan dan membasuh wajah menggunakan air yang mengalir dari sumur bor.
50 Hari, Bangun Berbagai Infrastruktur
Selama 50 hari pelaksanaan Karya Bakti TNI AD di Kabupaten Kepulauan Mentawai, berbagai pembangunan fisik dan kegiatan sosial berhasil direalisasikan.
Di sektor air bersih dan sanitasi, TNI AD membangun 10 titik sumur bor dan 10 unit MCK. Sementara untuk mendukung konektivitas wilayah, dibangun enam unit jembatan, terdiri dari lima jembatan beton dan satu jembatan gantung, serta pengerasan jalan sepanjang 300 meter.
Program tersebut juga mencakup rehabilitasi 10 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), satu unit mushola, satu unit gereja, dan satu unit sekolah.
Selain pembangunan fisik, Karya Bakti TNI AD juga diisi berbagai kegiatan nonfisik, seperti operasi katarak, sunatan massal, pengobatan gratis, pembagian 1.500 paket sembako, serta sosialisasi pembinaan kesadaran bela negara dan rekrutmen TNI.
Akademisi Dorong Pembangunan Berkelanjutan
Keterlibatan akademisi dalam program tersebut menjadi salah satu nilai tambah karena dampak pembangunan dapat dikaji secara lebih terukur dan ilmiah. Tim peneliti tidak hanya mendokumentasikan hasil pembangunan, tetapi juga mengidentifikasi faktor yang memengaruhi keberhasilan program, termasuk tingkat partisipasi masyarakat dan kearifan lokal.
Anggota Tim Peneliti UPI, Riko Arrasyid, M.Pd., mengatakan semangat gotong royong antara TNI dan masyarakat menjadi modal sosial penting bagi keberlanjutan pembangunan.
“Kami melihat semangat gotong royong yang kuat antara TNI dan masyarakat. Ini adalah modal sosial yang sangat penting untuk keberlanjutan program ke depan,” katanya.
Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, menyambut baik pelaksanaan Karya Bakti TNI AD dan mengapresiasi kontribusi TNI dalam mendukung pembangunan daerah.
Kolaborasi antara TNI AD, akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat tersebut diharapkan dapat menjadi model pembangunan yang tidak hanya menghasilkan infrastruktur, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Kepulauan Mentawai.
